Validasi
mencari validasi sampai kembang kempis
Halo, Ridan Maza di sini! Tenang, saya masih orang yang sama, yang menyurati kotak surelmu beberapa kali lalu. Ia adalah sebuah pena dengan nama, salam kenal!
Pernah tidak, sih, kamu diolok dengan label cupu oleh teman-temanmu? Karena tidak merokok, karena tidak punya pasangan, atau karena mungkin hanya anak rumahan? Setelah label itu muncul, apakah kamu ingin membuktikan bahwa olokan itu tidak benar atau berusaha sekuat tenaga menjawab dengan rinci kenapa kamu memang seperti yang diolokkan?
Aah ... hidup.
Sebagai anak lapangan (baca: kerja di luar kantor), hampir setiap hari saya mendapatkan olokan serupa, meski dengan kadar canda. Stigma yang melekat pada orang lapangan begitu terbukti saat saya pertama kali bekerja dengan teman-teman di sana. Stigma "brudas-brudus", aktif, sat-set, braok dalam kehidupan. Keras memang, haha. Saya sebagai orang yang tidak selaras dengan itu seperti merasa kalah telak.
Mmm ... rasanya campur aduk. Tapi, tidak juga sebenarnya.
Jika itu terjadi tujuh sampai delapan tahun lalu, saya mungkin tidak akan sekuat itu. Saya mungkin akan berusaha menjelaskan alasan tidak melakukan hal-hal yang mereka sampaikan. Tetapi kini sadar, menjelaskan sikapmu kepada orang yang sekadar ingin tahu adalah kesia-siaan. Karena ceritamu hanya akan berakhir sebagai gunjingan atau lucu-lucuan.
Jadi, sekarang, apa yang saya lakukan saat orang-orang melabeli saya seperti itu? Yaa, paling tidak senyum, atau ikut tertawa.
Oke, itu adalah respon saya yang secara fisik keluar, lalu bagaimana sebenarnya teknis pikir untuk "merespon" label yang disematkan kepadamu tanpa perlu gatal terburu-buru untuk menjawab rinci babibu?
Pondasinya di sini: secara default orang-orang yang bertanya kepadamu hanya sekadar ingin tahu. Kalau beruntung, ceritamu tersimpan rapat di brankas, kalau tidak, ia hanya akan keluar menjadi bahan candaan.
Dengan cara berpikir seperti itu, ketika ada yang mengolokmu, mantra klasik ini berbicara: orang lain cuma melihatmu sekenalnya. Tidak pernah benar-benar tahu alasan lebih dalam mengapa kamu memilih untuk tidak merokok. Mereka tidak pernah benar-benar tahu apa yang kamu lakukan sebenarnya saat dituduh sebagai anak rumahan.
Agar tetap aman, menahan cerita validasimu adalah keputusan yang bijak -- untuk saat ini. Sampai kapan? Sampai kamu bertemu dengan orang yang layak untuk menerima ceritamu.
Benar sekali, saya tidak menyarankanmu untuk kaku. "Aah, gak usah cerita kepada siapapun, gak ada yang bisa dipercaya". Tidak. Tetaplah cerita. Tetaplah berbagi tentang isi kepala dan perasaanmu. Pelan-pelan dahulu. Dimulai dari menulis di buku jurnal atau diari, berlanjut cerita ke orang yang tepat. Siapa yang tepat? Tenang, intuisimu akan menuntunmu nanti. Dengan begitu validasi terjadi secara natural.
Memaksa mencari validasi itu melelahkan. Dan memang sebetulnya tidak perlu. Kamu valid sejak lahir, jadi tidak perlu memaksakan diri mempertontonkan hal itu sebagai cara agar kamu dianggap dan dihargai.
Ocehan Makanan
Tulisan ini sudah terbit di blog pribadi 2 Juli 2022. Diunggah ulang dengan sedikit penyesuaian.
Dari sekian tumpuk perkakas, kebutuhan, produk, atau apalah itu–selain makhluk hidup dan uang, manusia pasti memiliki sesuatu yang dianggap berharga. Berharga yang tak selalu dicerminkan oleh nominal, tapi oleh nilai khusus, yang kadang dapat diungkapkan, kadang tidak. Dan bisa saja yang paling disukai sampai didukung dengan militan.
Setelah sedikit merenung sekenanya, berpikir sambil lalu, “makanan” ternyata menjadi sesuatu yang begitu.
Makanan jadi simbol pertemuan, keakraban, perdamaian, keberadaan, kemakmuran. Dalam kehidupan kampung, makanan menjadi penyangga guyub rukun. Sedang rapat, ada makanan. Sedang kerja bakti, ada makanan. Walaupun seadanya, cukup teh dan kacang-kacangan sampai gorengan. Hingga acara pentas seni, ada makanan dan tentu lebih lengkap. Mau lebih lengkap lagi, berikut jumlahnya yang lebih banyak? Datang saja ke pesta nikahan (tapi tidak saat pandemi, lho, ya, karena hidangannya pasti cenderung lebih sedikit).
Masih ingat, dulu saya sejak SD memang jarang jajan. Sekalipun jajan, uang saku tidak banyak. Kala teman sekelas uang saku kisaran 1.000, saya hanya separuhnya.
Era itu lumayan, lho. Tahun 2000 awal, 500 rupiah sudah bisa mendapatkan beberapa sendok nasi goreng atau mi di lapak depan SD. Atau beberapa butir salome kecil dengan satu salome bertelur puyuh. Tapi yaa begitu, dengan 500 rupiah harus lebih pintar mengelola duit, mau dipakai jajan sekali (istirahat pertama atau kedua) atau jajan dua kali, kemudian ingin jajan seberapa banyak.
Makanan bisa jadi tanda keakraban. Satu orang penjual telur gulung yang kadang saya beli seporsi kecil 100 atau 200, sekali waktu memberi saya dengan porsi 500 rupiah. Gulungannya lebih tebal. Cukup buat lauk sepiring nasi.
“Wuoh, Rid, gede banget. Beli berapa kamu?” Seorang teman menyapa dari belakang.
Mas Agung, penjual telur gulung itu membantu menjawab, “Lima ratus. Maza beli 500. Iya, kan, Fer?”
“Maza” adalah panggilan sirkel kampung dan saya mengangguk meski ketidaksinkronan panggilan membuat saya ingin mengumpat selayak bangsat.
Rumah sang penjual telur gulung memang tak jauh dari rumah nenek saya di kampung seberang. Kehidupannya tak hanya dekat secara tempat, tetapi juga komunikasinya. Telur gulung menjadi sarana bukti kedekatan, meski saat itu saya tak paham dan memilih untuk merasa tak enak.
Saya tak begitu paham, kenapa orang-orang memilih untuk makan di luar sementara di rumah sudah ada makanan, dimasak oleh orang tua sendiri atau siapa saja anggota keluarga. Tidak enakkah? Bosankah? Atau sekadar pengin makan di luar sambil nongki-nongki? Mending, uang sakunya ditabung untuk beli sesuatu. Ya, kan?
Semasa SMP, jajan di kantin bisa dihitung jari. Sekali jajan pun tidak lebih dari cemilan kecil-kecilan, tidak pernah apa saja yang dianggap mengenyangkan seperti Soto Ayam, yang saat itu adalah menu besar unggulan di kantin Bu Budi, sebelah lapangan voli.
Putra Bu Budi yang kadang ikut membantu melayani, seorang pemuda tanggung, cukup populer. Baik di kalangan murid laki-laki dan perempuan (tapi saya cukup yakin lebih banyak perempuan, sih). Setiap pergi ke kantin atau wilayah sekitar itu, ada saja orangnya. Kadang, bersama murid-murid lain dalam satu meja, ngobrol lumayan ramai, terbahak-bahak, dengan mangkuk soto yang habis tak tersisa atau yang masih ada sedikit kuah di dalamnya. Sebagian murid menggenggam segelas es teh, sebagian lain memegang tempe goreng yang tergigit hampir habis.
Beranjak SMA, cara saya memandang kantin tak banyak berubah. Kenapa saya harus jajan kalau uangnya lebih baik buat beli bensin, beli majalah atau buku? Tapi, sekali dua kali boleh, lah. Beberapa kali juga boleh.
Jajan kala SMA hanya terjadi sepulang sekolah, bukan pada jam istirahat. Kala itu, saya hanya diajak teman sembari menunggu kegiatan ekstrakulikuler dimulai. Memesan menu populer, nasi dengan kering tempe dan sambal. Ternyata weenak, Bre! Meskipun pikiran bercabang karena muncul sesal keluar uang untuk tindakan yang tidak biasa dilakukan.
Hess, malah jajan, begitu kiranya.
Bertemu anak dari sirkel lain, dengan gaya lebih bebas setelah sebelumnya bertemu mereka dengan gaya religius di masjid sekolah. Bercakap-cakap semi intim. Mendengar kemajuan tentang proses apa saja, “bergosip” dengan penjual. Pertemuan dan makanan yang tersaji di mejalah yang membuka obrolan. Komunikasi terjadi, meski dengan level seadanya. Sambil bibir berkecap, semua bisa jadi bahan ocehan.
Saya menikmati makan di luar rumah dan menjadi tahu mengapa orang-orang melakukannya (di samping karena situasi kondisi memang tak ada makanan di rumah). Makanan dapat menjadi sekadar alat bertemu dan cengkerama, bahkan bisa sampai politik selevel negara.
Presiden Korsel dan Korut, Moon Jae-in dan Kim Jong-un menjalani pertemuan fenomenal 2018 lalu, yang berjuluk Korea Summit. Satu yang menjadi kehebohan adalah, apa lagi kalau bukan, makanan. Mi dingin yang dibawakan Pimpinan Korut kepada Presiden Korsel menjadi alat diplomatik yang bikin warung makan naengmyeon (넹면) penuh antrean warga. Dalam beberapa hari, menu tersebut menjadi tren. Di Korut, menu yang sama bernama raengmyeon (렝면).
Edan, tak?
Makanan menjadi tiang gastro diplomasi sampai sesederhana rasa terima kasih.
Dalam tradisi pesta di Jawa (entah kalau di daerah lain), makanan menjadi alat syukur dan ungkapan terima kasih kepada tamu dan kepada tenaga masak (rewang). Yang pertama, terima kasih karena telah datang dan menyumbangkan uangnya. Yang kedua terima kasih karena merelakan waktunya seharian dalam dapur untuk memasak makanan para tamu.
Lihatlah begitu besar nilai makanan, sampai-sampai tak ada salahnya membenci setengah mati pada usaha untuk membuangnya begitu saja. Sikap itu yang juga membuat saya tak menyukai pesta-pesta–yang cenderung menjadi area bebas buang makanan. Pengunjung pesta yang menimbun nasi, sayur, dan lauk-lauk lalu menyisakan sebanyak-banyaknya di atas piring ceper. Ater-ater untuk tenaga masak yang terlalu banyak di rumah sampai menjadi timbunan makanan membusuk sehari kemudian.
Menjadi pencinta makanan rumah, semonoton apa pun itu, jadi cukup menyenangkan. Tapi, kalau saya memberi diri kesempatan untuk menjadi penghobi kuliner di luar rumah berikut dana dan perut yang tak terbatas, saya akan menjadi penikmat total bakmi jawa, lotek, dan nasi telur burjoan belakang Direktorat Pajak.
Sampai jumpa pekan depan! 👋


